tanggal 12 november kemarin kita memperingati hari kesehatan nasional. BEM FK UH tgl 18 nov. ngadain acara DISKUSI PUBLIK : JAMKESMAS; SOLUSIKAH? Kebetulan saya di daulat sebagai salah satu pembicara (hadir atas nama Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Chapter UNHAS) . Pembicara lain Bpk. Firman Jaya dari DINKES sulsel, kawan dari LKHMI (lupa namanya) dan Daeng Baji (ibu’ aktivis SRMI: serikat rakyat miskin Indonesia) dan satu lagi yang tidak sempat hadir pembicara dari askes.

Point……

  1. dana yang di kucur (sempat kali di cukur juga) hanya 4,6 triliun untuk sasaran 76,4 juta jiwa, dengan asumsi premi tetap sebesar Rp 5.000  per jiwa… cukup ji itu ? Nah bagaimana dengan kebutuhan klien (maskin) untuk mendapatkan paket kelompok diagnostik penyakit atau INA DRG (Indonesia Diagnostic Related Group), pelayanan gawat darurat (emergency) serta layanan kesehatan tingkat lanjutan dan khusus seperti penyakit terminal, pengobatan dalam bentuk penunjang medis canggih seperti CT Scan, MRI dan lain-lain
  2. jumlah dan sebaran kartu peserta jamkesmas tidak valid. Askes yang diberikan wewenang untuk mendata ternyata menggunakan data dari BPS yang tahun 2006. basi plus kadaluarsa. Pasti tidak valid. Pasca kenaikan bbm per mei, phk besar2an pasca SKB 4 mentri… jumlah warga miskin pasti bertambah. masyarakat kena gizi buruk dan busung lapar…. (intermezzo : saat ini juga menggejala penyakit yang serupa tapi tidak sama. samanya sama-sama perutnya MEMBESAR, tapi bedanya satu busung lapar, satunya busung KENYANG… banyolan ala Acha disela2 diskusi)
  3. Adanya pengkotakan pelayanan kesehatan u/ orang miskin cuma membuat luka baru ditubuh rakyat. Mereka cuma dibatasi pada pelayanan kelas teri (pelayanan kelas 3). kasian rakyat… kalo mau nikmati VVIP, Kaya ko dulu….eko prsetyo bilang : orang miskin dilarang sakit.…. belum lagi efeknya terhadap tingkat rasionalisasi pendanaan dan pengobatan yang semakin irasional… ..
  4. daeng Baji’ says : mananya dibilang gratis..? na saya hampir tiap hari advokasi masyarakat. Baru mau dikasi masu’ langsung ditanya siapa yang tanggung’i.. . trus dipersulit.. nabilang perawat’ka tidak ada kamar kosong. Masa’ di RS dadi cuma 2ji ranjang di kelas 3, na banya’na mamo itu orang miskin di makassar kodong… trus pernah juga itu pasienku di suruh beli darah. Mahalna mamo… padahal satau ada aturang kalo kita dapat jatah 3 kantong darah…. trus ada juga yang bilang nda berlaku itu karena ini bukan pemerintah punya… ini rumasakit Tentara (hehehehe) padahal sudahmi tanda tangan MoU itu rumah sakit dengan pemerintayya. .. pak Firman cuma bisa senyum2. Dinkes cuma perpanjangan tangan atas kebijakan dari pemerintah pusat. Soal itu sudah ada aturannya. Sampai sekarang kami juga belum mendapatkan laporan soal itu, mudah2an temuan ibu dapat kami teruskan ke instansi yang terkait….. . daeng baji’ menimpali : manaka yang lebih penting, nyawa seseorang atau aturang ? cocok’ki tawwa ! Acha Bertutur : defenisi DOKTER adalah Orang yang menyembuhkanmu dengan obat, lantas sejurus kemudian membunuhmu dengan tagihan ckckckckckckck iya…. ada itu programnya IASMo… Bebas dari lahir sampai mati….. HAYOOOO YANG MAU MELAHIRKAN, Melahirkan Saja… YANG MAU MATI, Mati saja….. GRATISSSSSS Ji.………
  5. ACHTUNG….. WARNING.. .PARINGATANG. .. 13 BULAN LAGI MEMBURU IMPIAN INDONESIA SEHAT 2010
Leave a Reply